BSI SumBar – Panggilan “Buya” saat ini telah lazim terhadap guru-guru Budi Suci di Sumatera Barat. Sekalipun demikian, panggilan ini sempat menjadi perdebatan panjang antar sesama guru dan anggota Budi Suci yang tidak mengetahui asal usul dan sebab musababnya.

Adanya perdebatan ini terjadi karena memang panggilan ini bukan merupakan dari ketetapan baku dari para pendiri budi suci sejak awal, bahkan bukan juga dari pemula Budi Suci di Sumateta Barat.

Sementara di Budi Suci sendiri aslinya tak ada panggilan khusus untuk memuliakan seorang guru. Di Sumatera Barat awalnya Hanya menggunakan panggilan-panggilan umum saja kepada guru-guru di Budi Suci. Seperti Bapak, Ajo, Uda dan bahkan bila umur si guru lebih muda biasa hanya dipanggil dengan sebutan namanya saja tanpa embel-embel apa pun.

Panggilan Buya di Minangkabau

Kata “Buya” berasal dari bahasa Arab yang berarti Ayah atau Bapak. Dalam rumah tangga masyarakat Minangkabau panggilan ini juga biasa di ucapkan oleh seorang anak kepada bapaknya. Jadi panggilan buya bukanlah panggilan baru yang terdengar aneh di telinga masyarakat Minangkabau.

Panggilan Buya juga merupakan panggilan kemuliaan yang lazim ditujukan kepada guru-guru atau ulama di Minangkabau. Terutama kepada guru atau pembimbing di pesantren-pesantren sejak dulunya. Panggilan ini juga ditujukan kepada seorang guru atau “khalifah” dalam pengajian tarikat umumnya di Sumatera Barat. Dengan artian bahwa seorang guru atau ulama merupakan bapak secara spiritual bagi murid-muridnya. Dan seorang murid adalah anak spiritual bagi seorang guru. Sehingga terjalin erat hubungan batin yang kuat layaknya anak dan orang tuanya yang tidak dapat terpisahkan secara batin.

Namun, hal ini tidak berlaku di lingkungan perguruan Budi Suci pada awalnya, khususnya di Sumatera Barat. Yang menganggap hubungan antara murid dan guru hanyalah sebatas hubungan dalam perguruan antara murid dan guru tanpa ada keterikatan bathin layaknya anak dengan orang tua.

Awal Mula Panggilan Buya di Budi Suci

Dalam perkembangan awal Budi Suci di Sumatera Barat, anggota Budi Suci bukanlah orang yang awam dalam hal keilmuan kebathinan. Pada umumnya anggota Budi suci telah mendalami ilmu kebatinan yang telah mendarah daging dan telah terbukti keampuhan dan kekuatannya. Sumber keilmuan mereka pun bermacam-macam. Ada yang menggunakan keilmuan kampung yang mengandalkan jampi-jampi dan kodam jin yang jauh dari ajaran Islam. Namun tidak sedikit juga yang telah mendalami keilmuan kebathinan yang berlandaskan kepada amalan-amalan menurut ajaran agama Islam. Secara umum mereka berasal dari berbagai ajaran tarikat yang berkembang di Sumatera Barat.

Sehingga mereka belajar keilmuan Budi Suci tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja atau tertarik hanya dengar mendengar cerita saja. Bahkan sekedar melihat saja belum lah cukup, kalau bukan menguji keilmuan yang mereka miliki dengan guru atau anggota Budi Suci yang ada pada masa itu.

Buya Ilham merupakan salah satu guru yang memiliki banyak murid dari kalangan orang-orang tarikat di Pesisir Selatan, Sumatera Barat sekitar tahun 1980-an. Tepatnya di daerah Batang Kapeh. Bahkan di antaranya sudah pada tingkatan khalifah, seperti halnya Buya Labai Lukas.

Buya Ilham

Buya Ilham yang pada masa itu lebih dikenal dengan nama Mulyadi. Beliau adalah murid dari Buya Katik (Buya Gazali), murid dari Buya Bagindo Rajo Bujang. Saat itu beliau masih tergolong usia muda, sementara murid-murid beliau sudah berusia lanjut.

Baca juga : Buya Bagindo Rajo Bujang, Awal Sejarah Budi Suci di Sumatera Barat

Karena rata-rata para murid adalah pengamal tarikat, merasa enggan untuk memanggil guru mereka dengan sebutan nama saja, sekalipun beliau berusia lebih muda. Pada kebiasaannya, para pengamal tarikat di Sumatera Barat terbiasa memanggil guru atau pembimbing mereka dengan panggilan “Buya” atau “Labai”. Maka Buya Labai Lukas bersama murid-murid yang lain membuat kesepakan untuk panggilan tepat kepada guru mereka. Lalu diusulkan lah beberapa panggilan kepada Buya Ilham, di antaranya “Guru”, “Ustadz” dan lain-lain.

Sekalipun beliau menolak panggilan kehormatan tersebut, para murid bersikeras untuk menetapkan suatu panggilan sebagai wujud penghormatan kepada guru. Dalam istilahnya “meninggikan seranting, mendahulukan selangkah” seorang guru dari pada murid. Karena dalam amalan Budi Suci lebih mengarah kepada keilmuan Tasawuf, maka para murid Buya Ilham menetapkan panggilan “Buya” adalah sebuah panggilan yang tepat. Sejak itu, murid-muri beliau memanggil BUya Ilham dengan panggilan “Buya”.

Panggilan Buya juga ditujukan kepada Tuanku Yusril (kala itu masih belum bergelar Tuanku) dan Buya Bagindo Rajo Bujang. Karena panggilan ini merupakan budi luhur dan akhlak yang mulia seorang murid terhadap guru, maka panggilan ini berpengaruh terhadap anggota Budi Suci yang lain, sehingga turut memanggil guru-guru mereka dengan panggilan kemuliaan ini.

Kesimpulan

Panggilan “Buya” terhadap guru Budi Suci di Sumatera Barat bukanlah suatu keharusan. Hanya saja merupakan sikap yang mulia dari seorang murid kepada seorang guru. Panggilan ini juga membedakan mana anggota yang berstatus sebagai seorang guru dan mana yang masih berstatus murid saja, khususnya di lingkungan perguruan Budi Suci di Sumatera Barat. Sehingga para anggota dapat berisikap lebih bijak di hadapan guru.

Seorang guru pun hanya menyarankan muridnya untuk memanggil guru-guru dengan panggilan Buya, tanpa ada pemaksaan. Karen seorang guru bukanlah orang yang haus dengan penghormatan dan sanjungan. Namun merupakan kesediaan yang tulus dari seorang murid untuk menghormati seorang guru. Karena mengormati guru merupakan suatu budi luhur yang baik dan akhlak yang mulia dari seorang murid. ™

Baca juga : Forum Budi Suci, Informasi dan Silaturrahmi

Gabung ke Forum Budi Suci klik di sini

Bagikan :

Anda Mungkin Juga Menyukai

Guru BS SUMBAR
BSI SUMBAR UNTUK SEMUA
forum budi suci
LOGO BSI

Tinggalkan Balasan