Silat Minang merupakan salah satu seni bela diri asli tertua di Nusantara. Sebagai salah satu seni bela diri tertua, silat minang sangat mempengaruhi, bahkan merupakan dasar ilmu bela diri silat yang ada di Nusantara.

Salah satu penyebab pengaruh silat minang terhadap silat di daerah lain di Nusantara adalah karena adanya migrasi penduduk minangkabau ke berbagai daerah. Migrasi penduduk minang ini merupakan suatu tradisi pemuda minang pada masa lampau yang biasa disebut dengan merantau.

Suatu tradisi juga bagi pemuda di Minang untuk tidur di surau sebelum tiba masanya untuk pergi merantau. Kebiasaan tidur di surau ini, para pemuda minang mengisi waktu dengan belajar silat dan mengaji di malam hari. Sehingga sejak kecil pemuda minang sudah dibekali ilmu bela diri dan agama. Sehingga silat dan ibadah di minang harus lah seiring sejalan. Dengan istilah lain “Silek Balahia jo Babathin”.

Baca juga : Buya Bagindo Rajo Bujang, Awal Sejarah Budi Suci di Sumatera Barat

Ke dua ilmu tersebut menjadi pegangan bagi pemuda minang ketika mereka sudah berada di tanah rantau. Dan tidak jarang ke dua ilmu ini menjadi modal awal pemuda minang untuk bertahan hidup di rantau orang.

Syeh Subandari alias Syah Bandar alias Muhammad Kosim

Muhammad Kosim atau mamak Kosim atau Syah Bandar atau Syeh Subandari merupakan salah satu perantau Minang yang ikut menyebarkan ajaran silat di daerah perantauan. Beliau berasal dari Pagaruyuang, Minangkabau. Lahir pada tahun 1766 Masehi. Beliau menetap di Wanayasa, Cianjur – Jawa Barat.

Di Wanayasa beliau tinggal dan bekerja pada Abah Enoch. Keahlian Syah Bandar dalam beladiri teruji saat beliau bertugas menjaga lahan perkebunan Abah Enoch. Pada masa itu beliau sering berhadapan dengan banyak perampok. Namun setiap pertarungan dapat beliau atasi dengan mudah dan melumpuhkan banyak lawan.

Setelah melewati berbagai pertarungan tersebut, membuat nama Syah Bandar masyur di kalangan pendekar atau jawara di Jawa Barat. Sehingga menarik hati para pendekar dan jawara tersebut hendak uji tanding dan silaturrahim dengan beliau. Dan tidak sedikit di antara mereka pada akhir belajar kepada Syah Bandar . Dan pada akhirnya Abah Enoh juga belajar kepada Syah Bandar .

Di antara pendekar besar yang tertarik bersilaturrahim dengan beliau adalah Bang Kari dan Bang Madi. Dalam beberapa literasi menyebutkan, bahwa Bang Madi juga berasal dari Pagaruyuang. Mereka berdua merupakan guru dari Raden Ibrahim, pendiri Silat Cikalong. Sebelum belajar kepada Bang Kari dan Bang Madi, Raden Ibrahim juga telah menguasai Silat Cimande yang beliau pelajari dari Raden Ateng Alimudin yang merupakan kakak iparnya. Silat Cimande sendiri diciptakan oleh Abah Khair.

Raden Ibrahim juga merupakan kerabat sekaligus guru dari Abah Enoch, sang juragan yang mempekerjakan Syah Bandar sebagai penjaga kebun. Yang Abah Enoch menikahkan anak perempuannya dengan Syah Bandar .

Pengaruh Keilmuan Syah Bandar terhadap Pekembangan Silat di Jawa Barat.

Dengan banyaknya pendekar atau jawara yang belajar kepada Syah Bandar , nama Syah Bandar semakin masyur dan menarik hati banyak orang untuk mempelajarinya. Keilmuan Sabandar lebih dikenal dengan nama Jurus 5 Sabandar atau Sabandaran. Karena silat Sabandar hanya memiliki 5 jurus dasar dan sederhana namun cukup ampuh untuk melumpukan lawan.

syeh subandari

Selain ikut memperkaya keilmuan dari perguruan silat yang sudah ada, keilmuan Syah Bandar juga turut menumbuhkan berbagai perguruan-perguruan baru oleh para pengamalnya.

Abah Enoch sebagai salah satu pewaris silat Cikalong menerapkan ilmu Syah Bandar pada generasi setelah Raden Ibrahim tiada. Pada generasi berikutnya, Nampon sebagai salah satu penerus silat Cikalong ikut mewarisi ilmu Syah Bandar .

Nampon diangap sebagai orang mempopulerkan ilmu tenaga dalam. Karena sikap nyelenehnya menarik perhatian banyak pendekar dan jawara untuk mempelajari dan mengembangkan ilmu tenaga dalam dari aliran Nampon.

Sejak itu semakin banyak perguruan-perguruan silat yang tumbuh dengan warna keilmuan Nampon. Salah satu perguruan tersebut adalah Tri Rasa yang yang berdiri di ITB Bandung. M. Tamim mendirikan perguruan ini tahun 1932. Ir. Soekarno dan M. Yamin merupakan tokoh nasional yang ikut mempelajarinya.

Budi Suci yang juga berdiri tahun 1932 oleh Syeh Abdul Rasyid. Syeh Muhammad Siddik yang merupakan murid dari Syeh Abdul Rasyid mengatakan bahwa Budi Suci diwarnai oleh keilmuan Nampon dan Khoir. Seperti halnya perguruan silat aliran Nampon lainnya, Perguruan Silat Budi Suci juga menempatkan Syah Bandar atau Syeh Subandari sebagai wasilah keilmuannya dalam amalannya.(TM)

Baca Juga : Budi Suci, Silat Warisan Budaya Minangkabau

Artikel serupa : Sejarah singkat Budi Suci di http://mzbudisuci.blogspot.com

Bagikan :

Anda Mungkin Juga Menyukai

Guru BS SUMBAR
panggilan buya
Fitur Forum Budi Suci
forum budi suci

Tinggalkan Balasan